Aku lahir di Cirebon, sebuah daerah yang sering dianggap unik karena posisinya di antara Jawa dan Sunda. Keluarga besar aku berasal dari sana, meskipun garis keturunan ayah memiliki darah Indramayu. Namun, aku tumbuh besar di Jakarta, yang membuat aku memiliki teman dari berbagai daerah, termasuk banyak teman dari suku Betawi. Ketika teman-teman bertanya, “Kamu dari suku mana?” aku sering bingung menjawab. Cirebon memang bukan Jawa, juga bukan Sunda—Cirebon adalah suku tersendiri dengan identitasnya yang khas.
Sejarah Cirebon
Cirebon bukan sekadar nama daerah. Sejarahnya yang panjang membentuk identitas unik suku ini. Pada abad ke-15, Cirebon menjadi pelabuhan penting di pesisir utara Jawa, tempat bertemunya pedagang dari berbagai bangsa. Posisi strategis ini menciptakan akulturasi budaya antara Jawa, Sunda, Arab, dan Tiongkok, yang hingga kini masih terlihat dalam tradisi dan budayanya.
Keraton-keraton di Cirebon, seperti Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan, memperkuat identitas politik dan budaya yang independen. Tradisi keraton ini berbeda dari keraton di Jawa Tengah maupun Sunda, menonjolkan ciri khas Cirebon sebagai daerah yang mandiri.
Bahasa Cirebon
Bahasa Cirebon memiliki kosakata dan imbuhan yang khas. Misalnya, imbuhan seperti “tah” dan “jeh” yang sering digunakan oleh masyarakat Cirebon. Aku sendiri masih sering menggunakan imbuhan tersebut. Jadi, ketika aku mendengar seseorang menggunakan imbuhan itu, aku langsung bisa menebak, “Kamu orang Cirebon, ya?”
Di sisi lain, Cirebon juga memiliki bahasa tersendiri. Meski lebih dekat dengan bahasa Jawa, bahasa Cirebon tetap memiliki perbedaan yang membuatnya unik. Jika dibandingkan dengan bahasa Sunda, perbedaannya jauh lebih besar. Namun, ada satu hal yang menarik di Cirebon, yaitu “bebasan” atau bahasa Jawa halus yang cukup enak didengar oleh orang Sunda. Sementara itu, bagi orang Jawa dari wilayah lain, seperti Jawa Timur, bahasa Cirebon sering terdengar agak aneh. Hal ini wajar karena meskipun Cirebon berada di area Jawa Barat, bahasa dan budayanya memiliki ciri khas tersendiri yang tidak sepenuhnya mengikuti Jawa maupun Sunda.

Source: wikipedia
Mulok di Cirebon
Meskipun Cirebon memiliki bahasa sendiri, pelajaran muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah di sana justru mengajarkan bahasa Sunda, bukan bahasa Jawa. Hal ini cukup unik, mengingat bahasa Cirebon lebih dekat dengan Jawa. Nenekku, misalnya, bisa berbicara dalam dua bahasa: bahasa Cirebon dan bahasa Sunda. Perbedaan ini semakin memperkaya warna identitas budaya masyarakat Cirebon.
Serupa tapi Tak Sama
Keunikan Cirebon juga terlihat pada daerah tetangganya, Indramayu. Sama seperti Cirebon, bahasa di Indramayu tidak sepenuhnya Jawa ataupun Sunda, melainkan memiliki karakteristik tersendiri. Kedua daerah ini menunjukkan bahwa identitas budaya di pesisir utara Jawa Barat sangat beragam dan tidak bisa disederhanakan hanya dalam kategori Sunda atau Jawa.
Cirebon Itu Suku Tersendiri
Cirebon adalah suku dengan identitas yang unik, berdiri di antara dua budaya besar, Jawa dan Sunda, tetapi tetap memiliki ciri khasnya sendiri. Baik melalui bahasa, tradisi, maupun sejarahnya, Cirebon membuktikan bahwa ia adalah bagian penting dari keragaman budaya Indonesia. Jadi, ketika ada yang bertanya, “Cirebon itu suku apa?”, aku akan menjawab dengan bangga: Cirebon adalah suku tersendiri dengan segala keunikannya.
Mau tau karya ku yang lain? klik ini
Yuk kita berteman social media ku di @hyeisti
Share

Trending
Sed ut perspiciatis unde omnis iste..
Quis nostrud exercitation ullamco..
Incididunt ut labore et dolore magna aliqua..

About me

Hi there 👋 My name is Isti, and this is my blog. Some of my favorite things are Notion, Digital Marketing and writing :)

