Belajar Menghamba

Sudah setahun lebih Aku konsisten mengamalkan doa itu. Tapi jujur saja, sampai hari ini apa yang Aku harapkan belum juga jadi kenyataan. Rasa bingung ini muncul sejak Abah wafat. Rasanya seperti kehilangan arah, sampai sering batin Aku bertanya, "Abah, ini arahnya ke mana? Isti bingung...

Pengajian Kemarin membahas Hikmah ke 7 dari kitab Al-Hikam

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ

"Janganlah karena tiadanya pemenuhan janji, padahal sudah waktunya, membuatmu ragu; agar hal itu tidak menodai mata batinmu dan memadamkan cahaya jiwamu."

KH Ulil di Pengajian Al Hikam Minggu 10 Mei 2026

Ini mengingatkan kita untuk tidak ragu meskipun doa belum dikabulkan. keraguan itu bisa mengotori mata batin dan memadamkan cahaya jiwa. Jangan-jangan selama ini "penyakitnya" ada di pikiran Aku sendiri. Aku sering merasa tidak berharga. Aku pikir itu rendah hati, padahal sebenarnya Aku sedang rendah diri. Rasa tidak berharga dan keraguan itu bisa menodai mata batin (bashirah) dan memadamkan cahaya jiwa. Pantas saja kebaikan Tuhan yang lain jadi tak terlihat olehku.

Mungkin Tuhan bukan sedang menolak doa ku, tapi Dia sedang "membersihkan" hati ku supaya aku benar-benar bersandar hanya kepada-Nya, bukan pada hasil doa itu. Sekarang, Aku ada di titik pasrah. Sekarang Aku sadar bahwa berdoa itu bukan tugas untuk memenuhi kebutuhan kita, karena ya sebenanrnya semua sudah diatur oleh-Nya. Tujuan doa yang aku pegang sekarang adalah agar kita kembali menghamba dan menggantungkan hidup hanya kepada-Nya.

Persis seperti arti nama ku sendiri, Isti’anah, menyandarkan segala urusan kepada Sang Pencipta. Doa adalah cara ku mengakui bahwa aku tidak punya daya apa-apa tanpa bantuan-Nya.Aku mulai belajar menerima kalau setiap orang punya garis waktunya masing-masing. Jadi, untuk diriku sendiri: berhenti menghukum diri karena merasa tertinggal. Waktu Tuhan tidak pernah salah. Kamu tetap berharga Isti, apa pun situasinya.

Written by:

Maulida Isti'anah

SHARE

Share

I'M Certified Impactful Writer Certified Impactful Writer

Trending

Sed ut perspiciatis unde omnis iste..

Quis nostrud exercitation ullamco..

Incididunt ut labore et dolore magna aliqua..

About me

Hi there 👋 My name is Isti, and this is my blog. Some of my favorite things are Notion, Digital Marketing and writing :)

Start working with me

Let’s have a virtual coffee and talk.

Want to chat first?

Chat with me via Instagram

All rights reserved © 2024 Blognya Isti

systeme.io